19.48


HIDUP BUKAN UNTUK MENYERAH

 

            Lahir di sebuah desa terpencil di Samgu, Pratila adalah seorang gadis perempuan yang cerdas, unik, dan periang. Di desa tang sebagian penduduknya menjadi seorang petani dan menikah mudah, serta kesempatan besar untuk melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi hanyalah hak istimewa bagi orang kaya. Namun, semua itu tidak membuat surut semangat Pratila untuk tetap sekolah sampai sarjana. Betapa hancur hati hancur hati Pratila ketika suatu sore ibunya berbicara dengan isak tangis bahwa ibunya sudah tidak bisa membiayainya sekolah di jenjang SMA. Sekuat apapun sang ibu berusaha, tampaknya gurat nasib Pratila akan seperti yang digariskan untuk perempuan-perempuan miskin di desanya. Dengan hati pedih pratila protes kepada ibunya.

“ Bu, mengapa aku harus berhenti sekolah?”

“ mengapa teman-temanku bisa meneruskan sekolah sedangkan aku tidak? Pedih hati pratila. Lebih pedih lagi dia merasa mimpinya untuk meraih pendidikan akan segera menguap dan satu-satunya hal yang menghalangi harapan dan kenyataan adalah keterbatasan biaya.

“ Nak, ibu sudah berusaha. Tapi, lihatlah ayahmu. Dia hanya berfoya-foya saja. Tanpa memperhatikan nasib kita. Setiap kali ibu meminta bayaran sekolahmu dan adikmu, ayahmu selalu marah dan hanya bisa ngomel. “ ibu sudah tidak kuat lagi menahan semua ini. Dari awal ibu menikah dengan ayahmu tak ada sedikitpun kebahagiaan yang ibu kecap dan rasakan. Hanya air mata dan ocehanlah yang kerap kali hadir pada rumah tangga ini.” Tangis ibu.

“ Pratila tahu bu, tapi apakah aku harus berhenti sekolah? Dengan cara inikah, aku harus memendam semua impianku untuk bisa menjadi orang yang berhasil???” pekikku.

“ harus gimana lagi nak? Ya…berdoalah saja biar ibu tetap bisa menyekolahkanmu.” Jawab ibu.

            Itulah yang harus dihadapi oleh gadis periang ini??? Tidak bisa dibayangkan bagaimana nasibnya nanti bila ia benar-benar akan berhenti sekolah. Semenjak hal itu, semangat pratila mulai goyah. Bahkan, nilai raportnya agak menurun.

*********

            Semakin lelah rasanya hati pratila saat dia harus mengetahui bahwa orang yang selama ini berada didekatnya. Orang yang selalu mensupport dia ketika sedang kacau telah menghianatinya bersama temannya sendiri. Padahal, pratila sangat mencintainya. Tapi, mengapa dia tak jujur kalau dia masih suka dengan temannya yang dulu pernah dekat sama dia.

“ Ya allah……..mengapa saat aku mendekati cinta?? Cinta telah pergi?? Apa yang harus aku lakukan???” curah hatinya.

***********

            Rapuh….ya, rapuhlah hati dan semangat hidup pratila. Semua masalah ini telah merobohkan benteng yang sudah sekian lama dia bangun dan jaga. Setiap hari hanya bengonglah yang ia lakukan.

************

“ Nak, ada masalah apa??? Mengapa akhir-akhir ini kau sering bengong??” Tanya ibu.

“ Endak bu, nak ada apa-apa. Tila hanya kecapekan aja bu.” Jawabku.

“ Jangan bohong nak, ibu tahu pasti kau telah disakiti oleh masalah percintaan??? Tanggap ibu.

“ Iya bu, dan aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia telah menghianati ku bu?.Tangisku.

“ ketahuilah nak, dunia ini tak selebar daun kelor. Masihbanyak cinta yang mengharapkan kedatanganmu. Ikhlaskan saja. Janganlah terlalu terjebak pada masalah percintaan. Sehingga kamu seperti ni. Jangan kau pertaruhkan hidupmu hanya untuk cinta. Itu perbuatan bodoh yang pernah kau lakukan. Perjalanan mu masih panjang. Gapailah cita-citamu. Railah impianmu!!!” Nasehat ibu.

****************

            Hujan sore turun laksana turut merasakan betapa hancurnya hati pratila. Perkataan ibunya terus terngiang-ngiang dalam ingatannya. Pratila berfikir, apa yang dikatakan ibunya itu benar. Dia tidak boleh rapuh hanya karena masalah cinta dan pertengkaran keluarganya serta masalah biaya sekolahnya semata.

            Semangat yang hampir terkubur dalam diri pratila tersebut, kini telah bangkit kembali. Dia ingin menjadi karang yang takkan goyah walaupun terhempas air laut yang dahsyat. Ndak seperti tumpukan korek api yang roboh hanya karena ditiup angin.

            Gadis ini emang bukanlah gadis yang mudah menyerah. Walaupun dia dihantam masalah cinta dan sekolah, dia tetap kokoh. Bahkan dia rela mengayuh kereta angin di tengah terik sang surya menempuh jalan panjang ke sekolah hanya untuk menggapai cita-citanya. Kakinya sakit, badannya letih dan mukanya kusam. Namun, hatinya tetap hangat dengan harapan. Sekolah adalah api yang menyalakan mimpi-mimpinya. Pernah suatu ketika, pratila harus tidak jajan karena ibunya tidak punya uang untuk jajannya. Betapa besar pengorbanan pratila. Tapi, betapa kuat tekatnya untuk tidak dimangsa nasib yang setiap saat bisa menghempaskan bentengnya yang rapuh. Namun, setiap kali pratila terperangkap dalam kesulitan, buku harian dan sahabatlah obat penawarnya. Dengan penuh perasaan pratila menulis. Biar kenangan itu tetap tergambar walaupun nantinya dimakan zaman.

**********

            Pada saat pratila berjalan disebuah tempat, disana dia melihat banyak orang yang jauh berbeda dengannya. Satu orang hanya memiliki sebelah kaki. Yang lain kehilangan salah satu tangannya. Bahkan ada yang buta.

“ Aku sempat mengira aku takkan mampu bertahan dalam kehidupan ini. Namun, mereka saja bisa tetap hidup dan berkarya, jadi kenapa aku tidak melakukan hal yang sama??? Padhal aku ini lebih baik dari mereka dari hal fisiknya.” Pikirku.

            Kenyataan ini, telah menyadarkan pratila betapa pentingnya mimpi dalam kehidupan. Dan betapa ruginya orang yang menyia-nyiakan kehidupan ini hanya karena masalah cinta dan pertengkaran semata. Ibu yang mendorongku sehingga bisa kembali bengkit dari keterpurukkan. Aku harus terus semangat hidup dan bersekolah agar bisa masuk ke universitas dan mendapatkan job yang hebat. Kemudian, ibu akan merasakan kehidupan bahagia yang belum pernah ibu rasakan. Aku ingin ibuku hidup bahagia diamasa tuanya ini.    

0 komentar: